Desain Kain dan Pertanian

By the way, saya rasa mulai sekarang saya berkeinginan untuk aktif kembali di dunia blog ini, no reasons. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang isi kuliah Supporting Courses/SC kedua saya, Sosiologi Pedesaan (SC Pertama saya adalah Ekologi Manusia). Sebelumnya saya akan jelaskan alasan kenapa saya ambil kelas tersebut. Pertama adalah saya ingin memilih peminatan desain spesialisasi rural landscape di Departemen, kedua saya berasal dari desa, dan ketiga kelas ini bukan kelas eksak.

Pertemuan kali ini saya mempelajari tentang pengenalan secara mendalam tentang sosiologi pedesaan. Namun saya tidak akan menjelaskan teori-teori yang ada dalam kelas kemarin, karena selain akan membingungkan kalian, saya juga. Saya hanya tertarik dengan sedikit ucapan dari dosen yang menyatakan:

Ada keterkaitan yang cukup kuat antara desain-desain kain di nusantara dengan pertanian.

Wow, saya penasaran dan saya mulai terbayang beberapa tenunan di nusantara yang saya tahu. Lalu dosen menceritakan panjang lebar tentang hubungan keduanya.

Membandingkan kain-kain di nusantara berkaitan dengan pola pertanian yang ada. Menurut teori evolusioner, pola hidup manusia dulu bergerak dari mulai berburu, meramu, mulai bercocok tanam, hinga akhirnya sekarang menjadi masyarakat industri. Pada masa sebelum orang-orang bercocok tanam, mereka tidak memiliki banyak waktu. Waktu mereka habiskan untuk berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sampai akhirnya mereka mulai bisa bercocok tanam dari awalnya menggunakan sistem ladang berpindah hingga menetap dan membuat sebuah komunitas yang sekarang disebut desa.

Lalu apa hubungannya dengan desain kain? Ketika mereka sudah mulai bercocok tanam, maka mereka mempunyai cukup banyak waktu luang, lalu mulailah banyak hal baru yang tercipta untuk mengisi waktu luang tersebut, salah satunya dengan menenun. Lalu apa hubungan lainnya? Mari kita bandingkan kain-kain dari dua pulau berbeda: Bali dan Kalimantan. Kain asli mereka berbeda satu sama lain. Apa  yang membedakan? Ya, Warna dasar kain mereka. Kain asli kalimantan hampir semuanya berwarna hitam (dominan gelap) sedangkan Bali memiliki kain dengan warna yang cukup bervariasi.

Dilihat dari sisi lanskap (saya harap tidak salah) Bali memiliki luas pulau yang jauh lebih sempit dibanding kalimantan. Hal lainnya,  masyarakat Kalimantan membuat lahan pertanian yang cukup jauh dari pemukiman, biasanya di tengah hutan, sedangkan masyarakat Bali lahan pertaniannya dekat dengan pemukiman. Hal ini membuat masyarakat Kalimantan menghabiskan waktu lebih banyak untuk kegiatan pertanian dibanding masyarakat Bali, sehingga masyarakat Bali bisa jeuh lebih mengeksplor kreatifitasnya pada waktu itu. Juga tak jauh berbeda dengan masyarakat Jawa (seperti bali) dan Sumatra (seperti Kalimantan <beberapa kota tidak sama>).

Kesimpulan yang bisa saya ambil, ternyata pertanian itu menjadi awal mula dari sesuatu. Selain awal mula terbentuknya desa, juga awal mula terbentuknya keragaman desain kain di nusantara.  Mungkin yang saya sampaikan disini tidak semuanya benar, maaf kalau misalkan ada hal-hal yang kurang tepat dan saya sangat membuka kritikan dan saran untuk kebaikan semuanya.

Advertisement

Leave a Comment

Filed under Materi Kuliah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s